Tips Penerjemahan Teks Korespondensi

Untuk pertama kalinya HPI Komda Bali menyelenggarakan Pelatihan Penerjemahan Teks Korespondensi dengan menghadirkan Ibu Anna Wiksmadhara (penerjemah senior di bidang hukum dan migas, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) sebagai tutor.

HPI Komda Bali secara rutin mengadakan kegiatan pelatihan atau sesi berbagi untuk memberikan kesempatan bagi para anggota maupun non-anggota HPI untuk belajar bersama dan memperluas jejaring.

Kali ini kami belajar penerjemahan teks korespondensi. Pelatihan ini berlangsung setengah hari, setelah rapat umum dan sosialisasi TSN. Kendati berlangsung singkat, ilmu yang kami peroleh cukup banyak. Para peserta sangat antusias.

Ibu Anna sedang menjelaskan

 

 

 

 

 

 

 

 

Banyak ilmu dan tips yang kami peroleh selama mengikuti pelatihan. Pada artikel singkat ini, kami ingin berbagi beberapa tips yang kami peroleh dari latihan yang diberikan oleh Ibu Anna:

1.Ketahui target readers dan degree of formality
Degree of formality adalah bagian penting dalam business correspondence. Kita perlu memperhatikan siapa pengirim dan penerima surat yang kita terjemahkan. Perhatikan hierarkinya untuk mengetahui the degree of formality. Misalnya, jika kita menerjemahkan surat yang ditujukan untuk instansi pemerintah, sebaiknya kita tidak menerjemahkan kata ‘You’, menjadi ‘Anda’, apalagi ‘Kamu’. Kita dapat menerjemahkannya menjadi ‘Bapak/Ibu’. Jika surat ditujukan kepada Bapak/Ibu Menteri, maka pilihan terjemahan kata ‘you’ adalah ‘Bapak Menteri’ atau ‘Ibu Menteri’. Memang ada tambahan kata ‘Menteri’ setelah Bapak atau Ibu, namun ini merupakan strategic addition yang dapat dilakukan oleh seorang penerjemah agar hasil terjemahan dapat lebih jelas. Perhatikan juga kapan kita sebaiknya menggunakan kata ‘Saudara’ alih-alih ‘Anda’.

2. Pertimbangkan aspek budaya
Perbedaan budaya memiliki pengaruh terhadap bahasa. Bahasa Inggris cenderung bersifat active oriented, sedangkan bahasa Indonesia bersifat passive oriented. Salah satu contoh yang sering kita temukan pada bagian akhir surat adalah sebagai berikut. “Demikian untuk dimaklumi.”

Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan frasa “Demikian untuk dimaklumi”, diantaranya “We hereby conclude our points” atau “This letter is served for due reference”. Dengan menambahkan subjek ‘we’ pada awal kalimat atau ‘this letter’, secara otomatis kita membuat kalimat pada teks target menjadi lebih dipahami. Kalimat target pun terkesan lebih natural. Strategi ini dinamakan dengan ‘addition’ untuk menciptakan clarity dan naturalness pada teks sumber tanpa mengubah makna.

Contoh lainnya adalah ketika kita menemukan kalimat penutup surat dalam surat berbahasa Inggris, misalnya: “In the meantime, we remain”, kita dapat menerjemahkannya sesuai dengan frasa yang pada umumnya berterima dalam surat korespondensi berbahasa Indonesia, misalnya menjadi “Demikianlah surat ini kami sampaikan, dan atas perhatian Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.”

3. Jangan mudah tergoda untuk menerjemahkan secara literal
Pemahaman akan konteks sangatlah penting dalam menerjemahkan untuk sedapat mungkin menghindari literal translation jika memungkinkan. Perhatikan kalimat berikut ini: “Saudara diminta untuk segera melakukan presentasi kepada pemerintah. Di antara beberapa alternatif terjemahan berikut ini, manakah yang lebih tepat untuk menerjemahkan frasa “melakukan presentasi”?
a. conduct your presentation:
b. deliver your presentation;
c. carry out your presentation;
d. do your presentation.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat kamus kolokasi. Pilihan yang paling tepat adalah ‘deliver your presentation’.

4. Hal-hal yang perlu dihindari dalam penerjemahan surat resmi
Ada hal-hal yang perlu kita hindari dalam menerjemahkan surat resmi, misalnya kata ‘bisa’. Alih-alih menggunakan kata bisa, kita dapat menggunakan kata ‘dapat’ agar lebih terkesan formal. Sedapat mungkin kita perlu menghindari penggunaan kata ‘get’, ‘give’, dan ‘do’ dalam penerjemahan surat resmi untuk menyesuaikan dengan degree of formality. Alih-alih menggunakan kata ‘get’, kita dapat menggunakan kata ‘obtain’, ‘receive’, dan lainnya sesuai dengan konteks.

Sekian artikel singkat kali ini. Nantikan artikel mini kami selanjutnya. 🙂

Kontributor: Luh Windiari
TranslationPapers Bali